Jumat, 19 Oktober 2012

Pengganti KRI Dewaruci Lebih Canggih

TNI Angkatan Laut berencana mengganti kapal latih KRI Dewaruci dengan kapal sejenis yang lebih canggih. Maklum usia dari kapal tersebut terbilang lansia alias sudah tua. KRI Dewar
uci sendiri sudah di operasikan lebih dari setengah abad atau persisnya selama 59 tahun.


Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengatakan pembahasan mengenai penggati kapal Dewaruci sudah dilakukan pihaknya jauh-jauh hari. "Pembahasannya sudah jauh-jauh hari, untuk mencari kapal yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan, lebih besar, dan lebih canggih," kata Untung, di sela-sela acara penyambutan KRI Dewaruci, Kamis (11/10/2012).

Untuk mendapatkan generasi penerus kapal, terdapat lima perusahaan pembuat kapal layar tiang tinggi dari tiga negara yang akan dilakukan tender. Perusahaan yang akan terlibat tender yakni dua dari Spanyol, satu dari Polandia, dan dua dari Belanda. Sementara Jerman tidak lagi disertakan karena sudah tidak membuat kapal layar tiang tinggi.

Menurut Untung, sepesifikasi kapal pengganti yang baru nanti diharapkan mampu menampung 120 kadet. Sementara untuk awak kapal termasuk pelatih berkisaran 60 sampai dengan 80 orang. Kapal baru nanti rencananya akan mampu menampung total hingga 180 sampai dengan 200 orang. Tipe kapal yang akan dipilih yakni dengan tipe Barque.

Mengenai harga, pihak Mabes TNI AL, Mabes TNI, dan Kementerian Pertahanan masih dibahas sebelum putuskan kapal mana yang paling cocok, serta perusahaan dan negara mana yang dipilih.

Untung tidak menyebut besaran pasti harga kapal yang baru nanti. "Kalau soal harga itu pastinya cukup besar," ujarnya.

Sementara mengenai KRI Dewaruci sendiri, Untung mengatakan TNI AL tetap akan menggunakannya. Karena sampai saat ini, kapal masih dalam kondisi laik untuk berlayar. Meski tetap digunakan, pihaknya selalu memperhatikan mengenai keselamatan, mengingat usai KRI Dewaruci yang sudah memasuki 59 tahun. "Setelah kapal latih yang baru datang, KRI Dewaruci tetap dipakai di wilayah Indonesia saja. Bisa dibilang ini perjalanan internasional yang terakhir. Untuk kapal baru, paling lambat (tiba) 2014 nanti," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, TNI Angkatan Laut hari ini menyambut kedatangan KRI Dewaruci di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta Utara. KRI Dewaruci mengikuti Operation Sail 2012 di Amerika Serikat dalam rangka memperingati 200th Anniversary of the War.




Foto: Senin, 15 Oktober 2012
Pengganti KRI Dewaruci Lebih Canggih

TNI Angkatan Laut berencana mengganti kapal latih KRI Dewaruci dengan kapal sejenis yang lebih canggih. Maklum usia dari kapal tersebut terbilang lansia alias sudah tua. KRI Dewaruci sendiri sudah di operasikan lebih dari setengah abad atau persisnya selama 59 tahun.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengatakan pembahasan mengenai penggati kapal Dewaruci sudah dilakukan pihaknya jauh-jauh hari. "Pembahasannya sudah jauh-jauh hari, untuk mencari kapal yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan, lebih besar, dan lebih canggih," kata Untung, di sela-sela acara penyambutan KRI Dewaruci, Kamis (11/10/2012).

Untuk mendapatkan generasi penerus kapal, terdapat lima perusahaan pembuat kapal layar tiang tinggi dari tiga negara yang akan dilakukan tender. Perusahaan yang akan terlibat tender yakni dua dari Spanyol, satu dari Polandia, dan dua dari Belanda. Sementara Jerman tidak lagi disertakan karena sudah tidak membuat kapal layar tiang tinggi.

Menurut Untung, sepesifikasi kapal pengganti yang baru nanti diharapkan mampu menampung 120 kadet. Sementara untuk awak kapal termasuk pelatih berkisaran 60 sampai dengan 80 orang. Kapal baru nanti rencananya akan mampu menampung total hingga 180 sampai dengan 200 orang. Tipe kapal yang akan dipilih yakni dengan tipe Barque.

Mengenai harga, pihak Mabes TNI AL, Mabes TNI, dan Kementerian Pertahanan masih dibahas sebelum putuskan kapal mana yang paling cocok, serta perusahaan dan negara mana yang dipilih.

Untung tidak menyebut besaran pasti harga kapal yang baru nanti. "Kalau soal harga itu pastinya cukup besar," ujarnya.

Sementara mengenai KRI Dewaruci sendiri, Untung mengatakan TNI AL tetap akan menggunakannya. Karena sampai saat ini, kapal masih dalam kondisi laik untuk berlayar. Meski tetap digunakan, pihaknya selalu memperhatikan mengenai keselamatan, mengingat usai KRI Dewaruci yang sudah memasuki 59 tahun. "Setelah kapal latih yang baru datang, KRI Dewaruci tetap dipakai di wilayah Indonesia saja. Bisa dibilang ini perjalanan internasional yang terakhir. Untuk kapal baru, paling lambat (tiba) 2014 nanti," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, TNI Angkatan Laut hari ini menyambut kedatangan KRI Dewaruci di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta Utara. KRI Dewaruci mengikuti Operation Sail 2012 di Amerika Serikat dalam rangka memperingati 200th Anniversary of the War.

Direction Finder YonHub TNI AD : Pengendus Pancaran Sinyal Lawan

Ada yang khas pada pameran Alutsista TNI AD yang berlangsung awal Oktober 2012 lalu di Lapangan Monas, Jakarta. Selain deretan alat tempur yang ditampilkan, ada satu stand ya
ng cukup menarik untuk diketahui lebih dalam, yakni Batalyon Perhubungan TNI AD. Inilah unit militer dalam lingkungan TNI AD yang jumlahnya memang hanya satu, ya memang TNI AD hanya punya satu Batalyon Perhubungan. 


Yang dipamerkan oleh kesatuan ini jelas bukan alutsista (alat utama sistem senjata), tapi punya peran penting dalam misi kombatan, terutama terkait misi-misi pengintaian dan intelijen. Dalam pameran tersebut, Yon Hub menampilkan ‘mainan’ barunya yakni perangkat Direction Finder. Perangkat ini dikemas dalam platform kendaraan four wheel drive, yakni Nissan Frontier. Kendaraannya boleh dibilang biasa-biasasaja, hanya tampil sedikit ‘sangar’ berkat cat hijau dof, tapi jangan anggap enteng untuk ‘jeroan’-nya.

Nissan Frontier ini mampu melacak titik lokasi keberadaan musuh atau target sampai jarak 40 km. Hal ini bisa dilakukan dengan cara pelacakan sumber pancaran gelombang elektromagnetik musuh. Perangkat keras (hardware) yang melengkapi kendaraan ini mencakup tripod antena DF, TRC 6200 IHDVU Receiver, antena DF VUHF ANT 205, antena GPS, kompas digital, tripod antena Monobs, antena Monobs HF STA 10, workstation, USB TOD dongle, dan ditenagai baterai Lithium Ion ALI 143 dan Coupler.

Antena ditempatkan pada sisi atap yang dilengkapi penutup

Untuk sokongan software (perangkat lunak) menggunakan LG 211 yang dipasok dari Thales, vendor elektronik asal Perancis. Perangkat interkoneksi mencakup kabel ethernet HF, kabel coaxial HF, dan power supply TRC 6200 IHDVU receiver. Frekuensi yang dapat dipantau dengan Monobs mulai 1 – 3.000 Mhz, dan DF mulai 30 – 3.000 Mhz.

Kelebihan dari platform perangkat ini adalah bersifat portable, bila kendaraan terhambat medan berat, antena dapat dilepas dari dudukan di mobil, untuk selanjutnya dipasang pada permukaan tanah. Perangkat Direction Finder ini merupakan barang yang masih baru, menurut awaknya perangkat ini baru hadir sekitar bulan Juni – Juli 2012.

Antena pencari gelombang yang terdapat di atap mobil dapat dilepas, dan dipasang pada dudukan tripod di luar kendaraan

Platform kendaraan tidak dilengkapi perlindungan lapis baja, hanya ada pelindungan jaring baja pada kaca depan dashboard. Sampai saat ini TNI AD baru memiliki 8 unit Direction Finder, untuk pengoperasiannya dengan moda BKO (bawah kendali operasi) untuk mendukung unit-unit tempur yang tersebar di wilayah Nusantara. Hmmm… dari jumlahnya yang 8 unit, rasanya sangat tidak ideal, semoga kedepan akan ada penambahan.




Foto: Direction Finder YonHub TNI AD : Pengendus Pancaran Sinyal Lawan

Ada yang khas pada pameran Alutsista TNI AD yang berlangsung awal Oktober 2012 lalu di Lapangan Monas, Jakarta. Selain deretan alat tempur yang ditampilkan, ada satu stand yang cukup menarik untuk diketahui lebih dalam, yakni Batalyon Perhubungan TNI AD. Inilah unit militer dalam lingkungan TNI AD yang jumlahnya memang hanya satu, ya memang TNI AD hanya punya satu Batalyon Perhubungan. 

Yang dipamerkan oleh kesatuan ini jelas bukan alutsista (alat utama sistem senjata), tapi punya peran penting dalam misi kombatan, terutama terkait misi-misi pengintaian dan intelijen. Dalam pameran tersebut, Yon Hub menampilkan ‘mainan’ barunya yakni perangkat Direction Finder. Perangkat ini dikemas dalam platform kendaraan four wheel drive, yakni Nissan Frontier. Kendaraannya boleh dibilang biasa-biasasaja, hanya tampil sedikit ‘sangar’ berkat cat hijau dof, tapi jangan anggap enteng untuk ‘jeroan’-nya.

Nissan Frontier ini mampu melacak titik lokasi keberadaan musuh atau target sampai jarak 40 km. Hal ini bisa dilakukan dengan cara pelacakan sumber pancaran gelombang elektromagnetik musuh. Perangkat keras (hardware) yang melengkapi kendaraan ini mencakup tripod antena DF, TRC 6200 IHDVU Receiver, antena DF VUHF ANT 205, antena GPS, kompas digital, tripod antena   Monobs, antena Monobs HF STA 10, workstation, USB TOD dongle, dan ditenagai baterai Lithium Ion ALI 143 dan Coupler.

Antena ditempatkan pada sisi atap yang dilengkapi penutup

Untuk sokongan software (perangkat lunak) menggunakan LG 211 yang dipasok dari Thales, vendor elektronik asal Perancis. Perangkat interkoneksi mencakup kabel ethernet HF, kabel coaxial HF, dan power supply TRC 6200 IHDVU receiver. Frekuensi yang dapat dipantau dengan Monobs mulai 1 – 3.000 Mhz, dan DF mulai 30 – 3.000 Mhz.

Kelebihan dari platform perangkat ini adalah bersifat portable, bila kendaraan terhambat medan berat, antena dapat dilepas dari dudukan di mobil, untuk selanjutnya dipasang pada permukaan tanah. Perangkat Direction Finder ini merupakan barang yang masih baru, menurut awaknya perangkat ini baru hadir sekitar bulan Juni – Juli 2012.

Antena pencari gelombang yang terdapat di atap mobil dapat dilepas, dan dipasang pada dudukan tripod di luar kendaraan

Platform kendaraan tidak dilengkapi perlindungan lapis baja, hanya ada pelindungan jaring baja pada kaca depan dashboard. Sampai saat ini TNI AD baru memiliki 8 unit Direction Finder, untuk pengoperasiannya dengan  moda BKO (bawah kendali operasi) untuk mendukung unit-unit tempur yang tersebar di wilayah Nusantara. Hmmm… dari jumlahnya yang 8 unit, rasanya sangat tidak  ideal, semoga kedepan akan ada penambahan.

Kopassus Berencana Membeli Anjing Pelacak Jejak


Kamis, Oktober 18, 2012

JAKARTA : TNI Angkatan Darat (AD) berencana membeli 17 ekor anjing untuk menunjang kinerja mereka. Anjing pelacak dengan kemampuan tinggi ini akan digunakan oleh satua
n elite Kopassus TNI AD.

Namun TNI AD harus menyesuaikan rencana pembelian 17 anjing ini dengan anggaran yang ada. Mereka juga tak mau memaksa.

"Kalau misal ada anggaran kami menyesuaikan," kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/10).

Pramono mengungkapkan untuk satu ekor anjing anggaran yang disediakan sebesar USD 6.000 (sekitar 57 juta). Artinya bila TNI AD berencana membeli 17 ekor anjing maka anggaran yang dibutuhkan adalah USD 102.000 dolar atau sekitar Rp 1 miliar.

"USD 6.000 untuk satu anjing," kata dia.

Menurut Pramono harga USD 6.000 per ekor anjing tidak termasuk ongkos perawatan. Sedianya anjing yang akan dibeli TNI AD bakal digunakan untuk melengkapi pasukan khusus TNI AD (Kopassus). Perawatan anjing, imbuh Pramono juga akan diserahkan pada Kopassus.

Saat ini satuan anjing yang dimiliki Kopassus berfungsi sebagai pelacak jejak sekaligus penyerang bila terjadi kejahatan.

Selain berencana membeli anjing pelacak, TNI AD juga berniat membeli sejumlah helikopter Apache. Namun, lantaran harganya mahal, TNI AD akan lebih mengutamakan peruntukan anggaran pada keperluan yang lebih penting dan mendesak.




Foto: Kopassus Berencana Membeli Anjing Pelacak Jejak
Kamis, Oktober 18, 2012

JAKARTA : TNI Angkatan Darat (AD) berencana membeli 17 ekor anjing untuk menunjang kinerja mereka. Anjing pelacak dengan kemampuan tinggi ini akan digunakan oleh satuan elite Kopassus TNI AD.

Namun TNI AD harus menyesuaikan rencana pembelian 17 anjing ini dengan anggaran yang ada. Mereka juga tak mau memaksa.

"Kalau misal ada anggaran kami menyesuaikan," kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/10).

Pramono mengungkapkan untuk satu ekor anjing anggaran yang disediakan sebesar USD 6.000 (sekitar 57 juta). Artinya bila TNI AD berencana membeli 17 ekor anjing maka anggaran yang dibutuhkan adalah USD 102.000 dolar atau sekitar Rp 1 miliar.

"USD 6.000 untuk satu anjing," kata dia.

Menurut Pramono harga USD 6.000 per ekor anjing tidak termasuk ongkos perawatan. Sedianya anjing yang akan dibeli TNI AD bakal digunakan untuk melengkapi pasukan khusus TNI AD (Kopassus). Perawatan anjing, imbuh Pramono juga akan diserahkan pada Kopassus.

Saat ini satuan anjing yang dimiliki Kopassus berfungsi sebagai pelacak jejak sekaligus penyerang bila terjadi kejahatan.

Selain berencana membeli anjing pelacak, TNI AD juga berniat membeli sejumlah helikopter Apache. Namun, lantaran harganya mahal, TNI AD akan lebih mengutamakan peruntukan anggaran pada keperluan yang lebih penting dan mendesak.

Ujicoba Rudal Yakhont Jilid 2

Mimik muka para petinggi TNI, khususnya Angkatan Laut tampak tegang menyaksikan eks KRI Teluk Berau yang dijadikan sasaran tembak rudal Yakhont oleh KRI Oswald Siahaan di laut Sulawesi 13 Oktober 2012. Maklum, ujicoba rudal yakhont tahun 2011 tidak cukup memuaskan sehingga perasaan cemas semakin besar di ujicoba kali kedua ini.

” Satu menit….30 second…!”, ujar seo
rang staf TNI AL memecah keheningan.

“10..,9.., 8..,7..,6,5…,2,1″, teriaknya kembali menyelesaikan countdown.

Angka yang dia hitung mundur sudah habis. Tetapi tidak terjadi apa apa dengan eks KRI Teluk Berau yang dijadikan target rudal yakhont.

Staf itupun akhirnya terdiam, menutup mulutnya rapat-rapat.

Semua hening sambil menatapi KRI Teluk Berau. Tak ada yang bersuara.

Tak lama kemudian muncul bola api kecil dari bawah KRI Teluk Berau, disusul ledakan besar yang menghiasi angkasa.

“120 detik…120 detik… !”, ujar staf tersebut dengan girang.

Muka para petinggi TNI yang tadinya muram berubah menjadi cair dan tersenyum bahagia. Beban yang begitu besar telah terlepas. Beberapa pejabat TNI saling pandang penuh makna, seakan ingin berbagi kebahagiaan setelah menahan perasaan tidak karuan.

Bola api berkobar demikian besar disertai asap putih berbentuk cendawan muncul di bagian belakang kapal. Tak lama kemudian bagian buritan kapal pun mulai tenggelam.

Para petinggi TNI melihat proses tenggelamnya KRI Teluk Berau melalui proyeksi gambar dari teleskop kapal.

Dalam beberapa referensi dikatakan angle/ sudut penembakan rudal yakhont, cukup unik. Rudal itu menyerang sasaran dengan sudut yang rumit untuk menghindari sergapan lawan.

Untuk itu kami penasaran dan mencoba mem-preview rekaman tembakan rudal Yakhont frame by frame.

Pada awalnya muncul ledakan kecil di bagian bawah belakang kapal, hampir sejajar dengan permukaan air laut. Namun hanya dalam hitungan sepersekian detik, bola api itu langsung membesar, menciptakan bola api raksasa yang disertai kepulan asap putih menyerupai cendawan.

Konon katanya asap bisa menjadi seperti bentuk cendawan, akibat suhu pembakaran yang sangat tinggi, membuat oksigen yang ada disekitarnya tersedot ke sumber api.

Perlahan tapi pasti KRI Teluk Berau mulai tenggelam ke arah bagian belakang. Derajat kemiringan kapal terus mengembang hingga akhirnya hulu kapal tegak lurus dengan langit lalu tenggelam ditelan air laut. Dasyat, efek tembakan rudal Yakhont hanya membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk menenggelamkan kapal ini.

“Luar biasa, untuk pertama kalinya rudal Yakhont bisa ditembakkan dari jarak 182 km”, ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati.

Rudal jenis Over The Horizon Targetting (OTHT) yakhont adalah rudal supersonik buatan Rusia dengan dimensi panjang 8,9 meter dan diameter 0,7 meter. Jarak tembak rudal seharga 1,2 juta USD ini, sejauh 300 kilometer dan bisa mencapai kecepatan 2,5 Mach (750 meter/detik).

Rencananya latihan tersebut akan mengujicoba berbagai rudal seperti: Yakhont, Excocet MM 40, C-802 serta Torpedo Sut (Surface and Underwater Target). Namun pada pelaksanaannya, KRI Teluk Berau terlanjur tenggelam saat dihantam satu rudal Yakhont .

Jika demikian, benarlah adanya bahwa rudal yakhont bisa dikatakan senjata strategis. Dia bisa menembak sasaran hingga 300 km dan langsung menenggelamkan kapal.

Uji coba senjata strategis dalam Latihan Armada Jaya XXXI/2012 ini, dihadiri Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno, delegasi Komisi I DPR/MPR RI Tri Tamtomo dan Yahya Sacawiria, serta seluruh Pangkotama dan pejabat teras TNI AL.

Pujian harus diberikan kepada TNI AL karena berhasil menembakkan Yakhont versi VLS (vertical launching system). Keberhasilan lainnya adalah mengintegrasikan rudal Rusia ke sistem kapal NATO, KRI Oswald Siahaan buatan Belanda. Diharapkan setelah datangnya helikopter OTHT Kaman SH-2 Seasprite nanti, rudal yakhont bisa diujicoba untuk jarak tembak maksimal yakni 300 km.

Dengan berhasilnya ujitembak rudal yakhont ini, tentu sudah bisa diterka apa isi rudal yang akan dimuat pada light frigate sigma 10514 yang sedang dipesan TNI AL ke Belanda. 


Kekuatan TNI AU Antara Tahun 2005 Sampai 2014

Analisa mengenai perbedaan kekuatan militer Indonesia pada tahun 2005 dan pada tahun 2014 nanti. Dan pada artikel kali ini saya lebih menitik beratkan pada kekuatan Angkatan Udara Indonesia. H
al ini memang saya sengaja, karena saya memang memiliki minat yang lebih tinggi untuk angkatan udara disbanding dengan angkatan lainnya. Tapi tenang, dilain waktu saya juga akan membuat artikel sejenis untuk angkatan lainnya.


Mungkin anda bertanya-tanya kenapa perbandingan AU Indonesia harus di tahun 2005 dan 2014? Kenapa tidak tahun yang lain? Ya benar, bahwa saya memiliki alas an kenapa saya memilih tahun tersebut. Alasan pertama saya memilih tahun 2005 adalah karena pada tahun itulah Angkatan Udara Indonesia baru terlepas dari embargo militer Amerika dan Sekutunya dari tahun 1999 – 2005. Sehingga pada tahun itu, kita akan melihat bagaimana keadaan AU Indonesia dan pengaruh embargo terhadapnya. Kemudian untuk tahun 2014 saya pilih, karena pada tahun tersebut Rensatra I MEF (CMIIW ya), akan selesai dilaksanakan. Sehingga pada kedua tahun tesebut kita akan melihat perbedaan yang signifikan.

Angkatan Udara Indonesia 2005
Seperti tulisan saya sebelumnya yang berjudul Embargo Militer : Masa Suram Alutsista Militer Indonesia , saya sudah menjabarkan bagaimana lemahnya militer Indonesia akibat embargo ini. Nah pada saat itu kekuatan Udara Indonesia yang mayoritas alutsistanya adalah buatan Amerika dan Sekutunya, mengalami kesulitan suku cadang sehingga tidak semua pesawat bisa di terbangkan.

Pada tahun 2005, angkatan udara Indonesia hanya terdiri dari :

10 F-16 A/B block 15 OCU buatan Amerika
12 F-5 E/F buatan Amerika
4 SU-27/30 buatan Rusia
40 Hwak-109/209 buatan Inggris
Beberapa OV-10 Bronco buatan Amerika
Beberapa Hwak-53 buatan Inggris
20-30 C-130 Hercules buatan Amerika
Dan pesawat-pesawat lainnya.

Nah dari daftar diatas, dikarenakan embargo hampir sebagian besar tidak layak terbang karena terbatasnya suku cadang yang dimiliki TNI AU. Sebagai contoh dari 10 F-16 yang dimiliki Indonesia, tidak lebih dari 4 pesawat saja yang bisa diterbangkan. Itupun dengan cara melakukan kanibalisasi terhadapt pesawat F-16 lainnya, sehingga pesawat yang dikanibalisasi bisa diambil bagiannya untuk dijadikan spare part bagi pesawat F-16 lainnya. Demikian juga untuk pesawat Hwak-209/109 yang merupakan buatan Inggris, yang juga kena imbas dari embargo ini. Dari 40 pesawat seri Hwak ini, sebagian besar juga tidak dapat diterbangkan karena masalah yang sama yaitu kekurangan suku cadang.

Demikian halnya dengan pesawat fighter lainnya yaitu F-5 E/F yang juga terimbah dampak embargo. Senasib dengan F-16, dari sekian banyak jumlah F-5 yang dimiliki TNI AU tercatat hanya beberapa yang layak terbang karena alasan yang sama yaitu kelangkaan suku cadang. Untuk pesawat tua semacam OV-10 Bronco dan Hwak-53 juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda. Demikian juga untuk pesawat angkut C-130 Hercules yang juga buatan Amerika. Pesawat ini juga mengalami nasib yang sama, kebanyakan pesawat tersebut terpaksa di Grounded karena kurangnya suku cadang akibat embargo.

Nasib berbeda diperlihatkan oleh pesawat 2 Sukhoi-27 SK dan 2 Sukhoi-30 MK yang termasuk pesawat baru (dibeli tahun 2003) dan dibeli dari Rusia. Pesawat ini tidak mengalami dampak langsung dari embargo, akan tetapi pesawat ini tidak dilengkapi dengan senjata rudal, tetapi hanya senjata standard yaitu internal canon. Itu artinya 4 Sukhoi milik TNI AU ini, ketika itu ibarat macan ompong yang hanya bisa mengaum dan menakut-nakuti musuhnya tanpa bisa menggigit dan mencakar. Pesawat ini termasuk pesawat hebat, namun tanpa rudal, Sukhoi ini tidak membawa dampak berarti bagi kekuatan Angkatan Udara Indonesia.

Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa kesiapan pesawat-pesawat TNI AU ketika itu sangat rendah dan sangat membahayakan bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Angkatan Udara Indonesia 2014
Belajar dari dampak embargo terhadap TNI AU, maka Angkatan Udara Indonesia melakukan beberapa perubahan mendasar dalam melakukan modernisasi keuatannya. Pihak terkait selalu mengedepankan syarat bebas embargo dalam membeli atau mendapatkan alutsista baru. Hal ini memang tidak berjalan mulus 100%, namun setidaknya itu sudah menunjukkan bahwa kita sudah memiliki strategi untuk menghindari dampak embargo di kemudian hari. Indonesia juga tidak lagi ‘hanya’ membeli peralatan dari pihak Barat tetapi juga dari Timur, walaupun belum 100% terhindar dari kemungkinan embargo.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita yang menyatakan bahwa ada banyak sekali pembelian yang dilakukan untuk memperkuat Angkatan Udara Indonesia. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Hibah 24 F-16 C/D Block 25 Upgrade setara block 52
6 Sukhoi-30 MK2 dari Rusia (penambahan dari 10 SU yang ada)
9 C-295 dari Spanyol
16 T-50 dari Korea Selatan
16 Super Tucano dari Brazil
Hibah 4 C-130 H dari Australia
Upgrade beberapa pesawat C-130 TNI AU
Upgrade 10 F-16 TNI AU sepaket dengan Hibah 24 F-16 dari Amerika.
Sejumlah Helicopter buatan PT DI lisensi dari luar negeri

Daftar diatas adalah daftar yang saya ketahui sudah ada kesepakatan dan kalau tidak ada masalah muncul, akan direalisasikan sebelum tahun 2014 ini berakhir. Salah satu lagi list yang tidak didaftarkan diatas adalah Hibah 16 F-5 dari Korea Selatan yang merupakan ‘hadiah’ atas kesedian Indonesia menjadi pembeli pertama pesawat latih T-50 buatan Korea Selatan. Namun untuk hibah ini saya belum berani mencantumkannya karena saya belum mendapat informasi valid tentang itu, walaupun saya pernah mendengar Menteri Pertahanan mengeluarkan statement seperti ini.

Pesawat Latih T-50 dari Korea Selatan

Dari data diatas maka di tahun 2014 kita akan melihat kekuatan udara Indonesia seperti di bawah ini :

34 F-16 ‘C/D’ setara block 52 buatan Amerika
12 F-5 E/F buatan Amerika (menjadi 28 F-5 jika hibah dari Korsel jadi)
16 SU-27/30 buatan Rusia
40 Hwak-109/209 buatan Inggris
16 Super Tucano buatan Brazil
16 T-50 (pesawat latih tempur) buatan Korea Selatan
20-30 C-130 Hercules buatan Amerika
9 C-295 buatan Spanyol ( 2 dibuat di Spanyol, sisanya dirakit PT DI)
Penambahan Helicopter TNI AU (jenis saya kurang tau)

Dan dengan berakhirnya embargo dan dukungan pemerintah untuk memodernisasi TNI AU, saat ini kesiapan pesawat TNI AU setiap harinya sudah berada di kesaran 70% dari semua inventory yang ada. Maka dari itu, pada tahun 2014 kita akan melihat kekuatan TNI AU yang cukup bisa mengimbangi Negara tetangga, walaupun belum menjadikan TNI AU sebagai First Class Air Force di Asia Tenggara. Namun ini merupakan permulaan dari MEF untuk modernisasi militer Indonesia. Modernisasi ini akan terus berlangsung dimasa yang akan datang.

Kesimpulan Akhir
Dari penjelasan diatas, bisa kita lihat bahwa ada perbedaan yang cukup significan yang akan terjadi di kekuatan Angkatan Udara kita. Kalau di tahun 2005, ada begitu banyak Negara yang memandang Indonesia dengan sebelah mata, maka di tahun 2014, Negara tetangga kita minimal harus menggunakan ‘3/4’ matanya untuk melihat Indonesia. Mudah-mudahan di waktu kedepan, semua Negara akan memandang Indonesia dengan semua matanya tanpa terkecuali, kalau perlu dan kalau memungkinkan, mudah-mudahan suatu saat nanti Negara tetangga akan melihat Indonesia dengan mata memelas seperti ketika jaman Presiden Soekarno dulu. Semuanya bukan untuk menindas Negara lain, melainkan untuk mempertahankan setiap jengkal kedaulatan NKRI.





Iran Bersedia Bantu Indonesia Kembangkan Nuklir

JAKARTA- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan, Iran bersedia membantu Indonesia mengembangkan PLTN nuklir. Kesediaan Iran ini disampaikan oleh Presid
en Iran Mahmoud Ahmadinejad yang didampingi beberapa menterinya kepada Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asian Cooperation Dialog (ACD) di Kuwait.



“Indonesia butuh nuklir untuk menggantikan tenaga minyak dan gas yang mungkin habis pada 2050,” kata Rudi dalam pertemuannya bersama Ahmadinejad, di Kuwait, Rabu, 17 Oktober 2012. Iran sudah menyatakan kesiapannya membantu mengembangkan PLTN nuklir di Indonesia.

Rudi menjelaskan, Indonesia membutuhkan nuklir tapi hanya untuk skala menengah. Kebutuhan nuklir ini, selain karena negara kepulauan yang butuh pembangkit banyak, Indonesia juga hanya ingin mengembangkan nuklir skala menengah agar negara lain tidak merasa terancam.

Potensi pengembangan PLTN skala menengah itu, Rudi menambahkan, terdapat di Belitung, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. “Pemerintah daerahnya sudah mau,” ujarnya.

Hanya saja, bentuk kerja sama pengembangan nuklir ini belum konkrit karena baru pembicaraan awal. Namun, Rudi meyakinkan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa pernah mengungkapkan pemerintah akan mencari pendanaan dari Kuwait untuk beberapa proyek. Kuwait akan menggelontorkan pendanaan melalui lembaga pendanaan pelat merah Kuwait yaitu Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFEAD).
Nuklir Dibutuhkan Guna Sokong Ekonomi Indonesia
Direktur Industri, Iptek dan BUMN Bappenas, Mesdin Kornelis Simarmata mengatakan, guna menyokong Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Indonesia memerlukan kehandalan sumber energi yang mendekati 100 persen.

"Industri di Indonesia merupakan padat energi, oleh karena itu untuk mendukung industri Tanah Air, nuklir menjadi sumber energi yang dapat dihandalkan," ujar Mesdin kepada Okezone di Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Mesdin menambahkan, industri padat energi dan modal seperti, pemurnian serta peleburan logam, pengolahan CPO, dan pengolahan karet membutuhkan energi listrik yang mumpuni.

"Sayangnya, pasokan energi belum mencukupi. Oleh karena itu PLTN dapat menyokong kebutuhan energi," imbuh Mesdin.

Bukan hanya dari sisi industri nuklir, dalam bidang pangan, pengaplikasian teknologi nuklir dapat membantu ketahanan pangan dan menembus target 10 juta ton pada 2014.

"Bibit unggul yang telah diproses dengan teknologi radiasi telah menyumbang bibit unggul padi, kedelai, sorgum, dan lainnya," paparnya di sela-sela acara Seminar Geologi Nuklir dan Sumber Daya Tambang di kantor BATAN, Pasar Jumat, Jakarta.

Di sisi lain, industri makanan juga memerlukan teknologi pengawetan yang tidak merusak kesehatan. Oleh sebab itu, metode pengawetan dengan teknologi radiasi dapat diandalakan dan berkontribusi dalam industri makanan di Tanah Air.

Selain itu, dari aspek kesehatan, kata Mesdin, disaat ekonomi tumbuh, kesehatan akan tumbuh. Oleh karena itu diperlukan alat diagnosa(gamma camera, diagnostic kits, dan obat-obatan yang ditelurkan dari pengaplikasian teknologi radiasi dan radio isotop BATAN.


Sumber : Tempo





Secara Keseluruhan Kekuatan Superhawk TNI AU Tinggal 32 Unit

RIAU-Pesawat tempur Superhawk TNI AU yang menjadikan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, sebagai apron tinggal 16 unit, setelah satu pesawat sejenis mengalami kecelakaan saat
melakukan latihan penerbangan.


"Atas insiden ini, pesawat sejenis (Superhawk) di Lanud Pekanbaru tinggal 16 unit. Kondisinya baik," kata

Panglima Koordinator Operasi (Pangko Ops) I Marsekal Muda Bagus Puruhito yang meninjau langsung proses evakuasi pesawat Superhawk, Rabu sore.

Selain tinggal 16 unit di Lanud Pekanbaru, demikian Bagus, pesawat sejenis juga ada 16 unit lagi yang ditempatkan di lokasi lainnya.

"Jadi secara keseluruhan, ada sekitar 32 unit pesawat Superhawk," katanya.

Bagus mengakui sangat menyesalkan insiden jatuhnya satu unit pesawat Superhawk 200 di Pekanbaru.

Pesawat naas tersebut dikendalikan oleh pilot bernama Letda Reza Prasetyo yang berhasil selamat dari insiden maut.

Insiden jatuhnya pesawat buatan Inggris itu terjadi di sekitaran pemukiman warga RT 03, RW 03, Kecamatan Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (16/10) sekitar pukul 09.47 WIB.

Sebagian besar puing bangkai pesawat Superhawk 200 itu juga telah dievakuasi oleh tim dari Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja.


Sumber : Antara